Mengapa orang membuat keinginan
kepada bintang jatuh? Apakah akan menjadi kenyataan jika mereka melakukannya?
Dulu, aku selalu bertanya-tanya tentang hal itu.
Namun sekarang aku berpikir, ah, pasti
mereka sangat putus asa.
Meskipun terus memiliki waktu yang
sulit, aku berharap semua orang bisa bahagia.
---
Setiap
kali melihat makhluk sepertimu, aku tidak berdaya. Menangis bukanlah
kepribadianku dan itu hanya membuang-buang waktu. Jika bisa, aku ingin sekali
marah. Tapi itu juga bukan hak maupun kewajibanku. Aku tidak suka terlibat
dengan perasaan seperti ini. Terlalu rumit.
“Bernapaslah…”
Mengalirkan oksigen
sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru kecilmu adalah satu-satunya usaha yang
bisa aku lakukan saat ini. Setelah itu terserah kamu mau melakukan apa saja.
Membunuh ayah dan ibumu. Menyeret mereka ke penjara. Atau melupakan mereka
selamanya. Semuanya ada di tanganmu.
“Bernapaslah, aku mohon…”
“Sudah, hentikan!” akhirnya bu Nurul
merampas ambubag dari tanganku. Lima menit yang lalu dia sudah menyuruhku untuk
berhenti tapi tak kupedulikan.
Kusentuh kaki kecilmu yang bahkan
lebih kecil dari jempol kakiku. Dua jam yang lalu di sini masih terasa hangat.
Sekarang aku tak merasakan apapun.
“Lakukan perawatan jenazah yang
benar. Ibu anggap ini ujian!”
Bu Nurul keluar dari ruang tindakan.
Kulihat dia berbicara dengan dua orang polisi dan seorang wanita tua yang
membawamu ke sini. Tidak jelas apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkin
selanjutnya akan dilakukan autopsi. Mungkin juga mereka sedang berunding di
mana akan menguburkanmu. Atau…mungkinkah polisi sudah menemukan ibu yang
membuangmu?
Alih-alih membantumu untuk bisa
hidup lebih lama, justru akulah yang mendapat bantuan darimu. Setelah dua bulan
praktik di rumah sakit, akhirnya aku bisa melakukan perawatan jenazah. Nilai
praktik klinik kebidananku bertambah karenamu. Aku merasa lega, tapi tidak
bahagia sama sekali.
***
“Hei, Canis!”
Aku melambatkan langkah lantas menoleh
ke belakang. Ayu berjalan keluar dari ruang obgyn sambil tersenyum lebar.
“Mau makan siang?” tanyanya seraya
berjalan ke arahku.
Aku menggangguk sambil balas
tersenyum.
“Jaga di mana hari ini?” Ayu
menggandeng lenganku.
“Perinatologi…” pandanganku teralihkan
oleh sekumpulan orang yang berjalan dengan cepat menuju ruang obgyn. Aneh,
karena jam besuk baru saja berakhir.
“Kenapa banyak orang di sana? Ada
yang meninggal?” selidikku yang langsung membuat Ayu tertawa.
“Bukan. Ada pasien yang mau nikah!”
Aku mengernyitkan dahi. Kaget
sekaligus tidak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Ayu.
“Kenapa menikah di sini?”
“Anak SMA jaman sekarang memang
gila. Teman-temannya lagi sibuk UN, dia malah lahiran!” tukas Ayu geram. Ia
melipat kedua tangannya di dada. “Cowok yang menghamilinya kabur, baru ketemu
tadi pagi. Makanya langsung dinikahin di sini.”
Selama
di rumah sakit, aku sering mendengar kasus anak SMP yang diperkosa, anak SMA
yang melahirkan di toilet sekolah, juga beberapa remaja meninggal karena
aborsi. Tapi…menikah di rumah sakit?
“Katanya ada yang nemu bayi di tong
sampah ya?” Ayu segera menyeretku menjauh dari ruang obgyn.
“Meninggal.” jawabku singkat.
Ayu mendengus sebal. “Asfiksi?”
“Iya. Ditambah perdarahan tali
pusat.”
“Kasihan…”
Kami berdua sampai di depan pintu
lift. Beberapa orang perawat juga terlihat di sana, menunggu giliran untuk
menggunakan lift.
“Capek…” keluh Ayu tidak
bersemangat. “Aku ingin cepat-cepat minggu depan.” ucapnya pelan.
Benar
juga. Tinggal satu minggu lagi, setelah itu praktik klinik kebidanan ini benar-benar
akan berakhir. Meninggalkan rumah sakit, kembali ke kampus, ujian, menyusun
tugas akhir, melakukan penelitian, lalu…wisuda.
Pintu lift terbuka. Kulihat Nina
keluar bersama seorang wanita hamil yang duduk di kursi roda. Setahuku hari ini
dia jaga pagi di IGD. Pasti mau mengantar pasien ke ruang obgyn. Tapi…wanita
hamil ini aneh.
“Bu guru…” dia melambaikan tangannya
pada orang-orang lalu tertawa keras sekali. “Bu guru…dadah…”
Nina memberikan isyarat dengan
matanya, menyuruhku dan Ayu untuk cepat mengikutinya. Ayu terlihat antusias,
berbeda sekali raut wajahnya dengan beberapa menit lalu.
“Bu guru…balonnya mana?” wanita
hamil itu mendongak menatap Nina manja.
“Nanti ya…” jawab Nina sekenanya.
Ayu menyenggol lengan Nina. “Pasien
ini kenapa?” bisiknya.
“Plasenta previa.”
Ayu tidak puas, dia mencubit lengan
Nina. “Pasien ini kenapa? Stres?”
Kami sampai di ruang Obgyn. Dengan
sigap, Ayu yang memang bertugas di ruang obgyn langsung mengambil alih kasus
wanita hamil tersebut. Wajahnya benar-benar gembira dan bersemangat.
“Ini kasus yang langka! Akhirnya aku
bisa melakukan asuhan pada ibu hamil dengan gangguan mental…” celotehnya padaku
dan Nina.
Nina membuang muka. Dia langsung
mengajakku keluar dari ruang obgyn setelah menyerahkan pasien dan laporan rekam
medik.
“Kasihan pasien itu,” ucap Nina
lirih.
“Keluarganya di mana? Aku juga tidak
melihat suaminya.”
“Keluarganya masih mengurus
administrasi. Kabarnya dia hamil setelah diperkosa oleh beberapa pemuda di
kampungnya.”
“Astagfirullah…pantas saja dia jadi
seperti itu,” seruku nyaris tidak percaya.
“Tidak. Dia idiot sejak kecil.”
***
Keterangan:
-
Ambubag: Alat bantu pernapasan untuk memompa oksigen udara bebas.
-
Ruang Obgyn: Fasilitas rawat inap khusus pasien-pasien dengan kasus kebidanan
dan kandungan.
-
Ruang Perinatologi: Fasilitas rawat inap yang disediakan khusus untuk pasien
bayi baru lahir sampai usia 12 bulan.
-
Asfiksi:Gangguan dalam pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh/ bayi baru lahir
tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur.
-
Plasenta Previa: Kondisi plasenta menempel
di bagian bawah rahim/ bukan berada dalam posisi normal.
