Dan saat kamu menginginkan sesuatu, segenap
alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya. –Sang Alkemis-
***
Pagi
itu, tiga hari sebelum menggenapkan usia di angka 24, serentetan pesan datang dari Kak Wulan. Sebuah pesan yang membuatku mengaktifkan kembali twitter yang telah hiatus lumayan lama. Sulit
dipercaya, lima belas menit kemudian, aku dinyatakan menjadi peserta Kampus
Fiksi 10. Ah, kado ulang tahunku tiba lebih awal rupanya.
Awal
2014, pertama kalinya aku mengenal DIVA Press dan Kampus Fiksi. Tepat di bulan
April, akhirnya berkesempatan mengikuti Kampus Fiksi spesial dan mendapat tiket
emas langsung dari Pak Edi Akhiles. Harusnya, aku menduduki kursi di angkatan
14 bersama dengan Rofie dan Kak Wulan. Siapa sangka, waktu mempertemukan kami lebih
cepat. Dan tidak hanya mereka berdua, Mbak Meka dan Kak Amad Kocil yang aku
kenal saat Kampus Fiksi spesial, ternyata masuk di angkatan 10 juga.
Bagiku, semuanya menjadi terasa
serba cepat. Maka, ketika menjejakkan kaki di gedung baru Kampus Fiksi, aku
seperti sedang bermimpi saja. Beberapa orang yang namanya sering bergantian
muncul di timeline twitter , akhirnya
kutemui juga. Alumni Kampus Fiksi yang aku kenal lewat novel-novelnya, bisa
kumintai tanda tangan bahkan foto bareng.
Malam pertama, di atas kasur berlogo
Manchester United, aku mencoba mengingat nama-nama peserta yang berjumlah 19
orang itu. Tiba-tiba saja aku merasa sedikit kecewa. Ah, bagaimana mau cinlok
jika perbandingan laki-laki dan perempuannya saja 4:16?
Kampus Fiksi ibarat sebuah kotak
kado yang sangat besar. Di dalamnya
berisi puluhan kotak kado lain yang menanti untuk di buka. Salah satu kado yang
besar bernama Pak Edi Akhiles. Jika ada yang menanyakan padaku siapa orang
paling baik se-Yogyakarta, aku pasti akan menyebut nama beliau. :))
Kado-kado lain adalah ilmu yang
dibagikan dari para editor, para alumni Kampus Fiksi yang karya-karyanya pernah
berjejer rapi di toko buku, hingga Mbak Munnal dan Mas Aconk yang bercerita
dengan sangat jelas tentang sisi lain dunia literasi.
Selama empat hari tiga malam, hal
paling berkesan bagiku adalah ‘praktik menulis tiga jam’. Saat itulah, baru aku
tahu jika dua orang yang duduk di kanan dan kiriku adalah orang-orang keren.
Feni, remaja SMA yang gaya bicaranya tidak jauh berbeda dengan Fitri Tropica itu
ternyata sudah melahirkan karya berjudul Tak Bisa ke Lain Hati.
Lain lagi dengan laki-laki bernama
Kristiawan yang duduk di samping kiriku. Cerpen yang dia tulis dalam waktu
tiga jam, seketika membuatku frustasi. Mendadak, aku teringat ucapan Hemingway
di Midnight in Paris. Kira-kira begini kalimatnya:
“Jika itu jelek, aku membencinya karena aku
benci tulisan jelek. Jika itu bagus, aku akan iri dan tetap membencinya.”
Ya,
saat itu aku benar-benar iri dan benci dengan tulisannya.
Teruntuk Rofie, Kak Wulan, Mbak
Meka, Kak Amad, Mbak Altami, Mbak Dian, Mbak Endah, Feni, Kristiawan, Fatta,
Lina, Rifah, Nida, Nursaadah, Sani, Siska, Mas Sugianto, Viki dan Vini, tahun
ini aku mendapat banyak sekali kado ulang tahun dari kalian. Terima kasih….
Keep writing on!






