Kamis, 04 Desember 2014

Kado Ulang Tahun



Dan saat kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya. –Sang Alkemis-

***

 Pagi itu, tiga hari sebelum menggenapkan usia di angka 24, serentetan pesan datang dari Kak Wulan. Sebuah pesan yang membuatku mengaktifkan kembali twitter yang telah hiatus lumayan lama. Sulit dipercaya, lima belas menit kemudian, aku dinyatakan menjadi peserta Kampus Fiksi 10. Ah, kado ulang tahunku tiba lebih awal rupanya.
         Awal 2014, pertama kalinya aku mengenal DIVA Press dan Kampus Fiksi. Tepat di bulan April, akhirnya berkesempatan mengikuti Kampus Fiksi spesial dan mendapat tiket emas langsung dari Pak Edi Akhiles. Harusnya, aku menduduki kursi di angkatan 14 bersama dengan Rofie dan Kak Wulan. Siapa sangka, waktu mempertemukan kami lebih cepat. Dan tidak hanya mereka berdua, Mbak Meka dan Kak Amad Kocil yang aku kenal saat Kampus Fiksi spesial, ternyata masuk di angkatan 10 juga.
           Bagiku, semuanya menjadi terasa serba cepat. Maka, ketika menjejakkan kaki di gedung baru Kampus Fiksi, aku seperti sedang bermimpi saja. Beberapa orang yang namanya sering bergantian muncul di timeline twitter , akhirnya kutemui juga. Alumni Kampus Fiksi yang aku kenal lewat novel-novelnya, bisa kumintai tanda tangan bahkan foto bareng.
            Malam pertama, di atas kasur berlogo Manchester United, aku mencoba mengingat nama-nama peserta yang berjumlah 19 orang itu. Tiba-tiba saja aku merasa sedikit kecewa. Ah, bagaimana mau cinlok jika perbandingan laki-laki dan perempuannya saja 4:16?
            Kampus Fiksi ibarat sebuah kotak kado yang sangat besar.  Di dalamnya berisi puluhan kotak kado lain yang menanti untuk di buka. Salah satu kado yang besar bernama Pak Edi Akhiles. Jika ada yang menanyakan padaku siapa orang paling baik se-Yogyakarta, aku pasti  akan menyebut nama beliau. :))
            Kado-kado lain adalah ilmu yang dibagikan dari para editor, para alumni Kampus Fiksi yang karya-karyanya pernah berjejer rapi di toko buku, hingga Mbak Munnal dan Mas Aconk yang bercerita dengan sangat jelas tentang sisi lain dunia literasi.
            Selama empat hari tiga malam, hal paling berkesan bagiku adalah ‘praktik menulis tiga jam’. Saat itulah, baru aku tahu jika dua orang yang duduk di kanan dan kiriku adalah orang-orang keren. Feni, remaja SMA yang gaya bicaranya tidak jauh berbeda dengan Fitri Tropica itu ternyata sudah melahirkan karya berjudul Tak Bisa ke Lain Hati.
            Lain lagi dengan laki-laki bernama Kristiawan yang duduk di samping kiriku. Cerpen yang dia tulis dalam waktu tiga jam, seketika membuatku frustasi. Mendadak, aku teringat ucapan Hemingway di Midnight in Paris. Kira-kira begini kalimatnya:
Jika itu jelek, aku membencinya karena aku benci tulisan jelek. Jika itu bagus, aku akan iri dan tetap membencinya.
Ya, saat itu aku benar-benar iri dan benci dengan tulisannya.
            Teruntuk Rofie, Kak Wulan, Mbak Meka, Kak Amad, Mbak Altami, Mbak Dian, Mbak Endah, Feni, Kristiawan, Fatta, Lina, Rifah, Nida, Nursaadah, Sani, Siska, Mas Sugianto, Viki dan Vini, tahun ini aku mendapat banyak sekali kado ulang tahun dari kalian. Terima kasih….
            Keep writing on!

   



Selasa, 02 Desember 2014

Catatan Perjalanan: Puncak Sikunir-Kawah Sikidang-Telaga Warna (Latepost)

24 Oktober 2014,  jam 23.00

Lampu kamar masih belum saya matikan. Rasanya aneh, melihat carier ada di pojokan kamar. Tidak ingat lagi kapan terakhir kalinya gendong carier dan tidur di tenda. 
Kuliah? Pramuka? Jambore waktu SMA? Pokoknya sudah lama sekali.
Dua minggu sebelumnya, teman saya (Uuj) mengajak untuk ikut acara makrab kelompok pengajian yang dia ikuti (FORHAGI). Begitu mendengar lokasinya di Dieng, langsung saya bilang ‘oke’, padahal waktunya berdekatan dengan jadwal ujian. Ah, pokoknya daftar saja dulu, masalah ikut atau tidak, bentrok dengan ujian atau tidak, itu urusan nanti.
Untunglah, ternyata tanggal 25-26 Oktober libur. Tanggal merah!!!

25 Oktober 2014, jam 10.00


Foto dulu sebelum berangkat. 
Nggak nyangka, ternyata yang ikut banyak juga. LEGGO!!!

Karena hari Senin masih ada ujian, niat awal mau ngapalin Parasitologi selama di perjalanan. Lumayan kan, Jogja-Wonosobo jaraknya 4 jam. Tapi...mendengar kiri-kanan-depan-belakang pada ngobrol ketawa-ketiwi, nggak tahan juga pengen ikutan nimbrung. 

Jam 2 siang akhirnya sampai di Wonosobo. Bablas, Parasitologi nggak disentuh sama sekali. 
Kami berhenti dulu di sebuah mesjid dekat Pasar Kertek. Istirahat sekalian nunggu Ashar. 
Jam setengah empat, perjalanan dilanjutkan lagi. Tujuan pertama dan utama yaitu Puncak Sikunir di Desa Sembungan. Kirain, udah dekat, ternyata masih jauuuuuh.

Hujan turun. Gede banget!
Hujan pertama yang saya lihat setelah pindah dari Ciamis. 
Setengah jam berlalu, hujan masih deras. Bagaimana kalau hujan belum reda saat kami tiba di Sikunir? Ah, bayangan di kepala saya mah  naik ke puncak Sikunir, terus jalanannya leueur, poek, guprak be geubis!

Ternyata Mas Dadang punya rencana lain. Kami diajak singgah dulu di rumah saudaranya. Lupa nama desanya, tapi masih di kecamatan Kejajar. 



Inilah alasan Mas Dadang mengunjungi saudaranya.
Terima kasih. ^_^

Hujan akhirnya reda....




Jalan-jalan sore di sekitar kampung dengan hamparan perkebunan kubis dan kentang yang bertingkat-tingkat milik warga.

Perjalanan berlanjut. Satu jam kemudian akhirnya sampai juga di Sikunir. Ternyata tidak usah jalan kaki untuk sampai ke tempat kemah seperti bayangan saya sebelumnya. Meskipun jalannya kecil dan sedikit rusak, tapi masih bisa dilalui mobil.

Nyate....

Udah pakai sleeping bag, masker, sarung tangan, jaket dua lapis, tapi dinginnya masih tembus nyampe  tulang. -,-



26 Oktober 2014
Jam 3 pagi dipaksa bangun. 
DINGIN BANGET!!!
Terpaksa lari-lari kecil untuk menghangatkan badan.

Perjalanan menuju puncak Sikunir pun dimulai.
Di tengah perjalanan, saya bertemu dengan rombongan yang baru turun dari puncak.

"Mas, ke puncak kira-kira berapa menit lagi?" tanya saya yang mulai ngos-ngosan. Antara ngantuk, dingin dan sakit perut. (Ps: Sebaiknya, sebelum naik ke puncak bereskan dulu segala urusan di kamar mandi. Biar kejadiannya tidak seperti saya)

"Paling 15 menit lagi, Mbak," katanya.

Ah! Ternyata saya dikubulin. Bukan 15 menit. Tapi 2 x 15 menit!!!


Akhirnyaaaaaa
Matahari Terbit di Puncak Sikunir.






Kawah Sikidang Jam 10.00 

Setelah puas dengan keindahan Puncak Sikunir, perjalanan kami berlanjut menuju Kawah Sikidang. Kira-kira 15 menit dari lokasi kemah Sikunir.
Karena nggak kuat sama bau belerang, saya hanya bisa melihat Kawah Sikidang dari kejauhan. Padahal, kata teman-teman pemandangannya keren banget. Ah, jadi nyesel.




Telaga Warna jam 13.00
Kira-kira jam satu siang, kami tiba di kawasan Telaga Warna dan Pengilon.
Betah banget deh di tempat ini.  





Menurut saya, pemandangan terbaiknya ya di dekat patung Gajah Mada ini. 
Dari patung ini, belok kanan....




Dan liburan di Wonosobo pun berakhir....
Sebelum pulang ke Jogja, kami singgah dulu di rumah keluarga Mas Aris. Ternyata, rumahnya hanya berjarak 10 menit saja dari Kawasan Borobudur.
Terima kasih untuk makan malamnya, Mas Aris dan keluarga.... ;))

Tepat jam 8 malam, kami akhirnya tiba di Jogja. Liburan benar-benar berakhir. 
Terima kasih Mbak Uuj, terima kasih FORHAGI. ^_^
Kapan-kapan kita main ke Green Canyon ya....

***