Sabtu, 14 Desember 2013

Dibuang Sayang

Sebagai seseorang yang tidak bisa disebut gadis remaja lagi dan sudah menulis sejak ribuan hari lalu, tentunya cita-cita tertinggi yang diharapkan adalah melihat tulisannya nangkring di media masa atau toko buku terdekat. Karena saat itulah, -menurutku- dia baru bisa disebut sebagai penulis.
            Menulis diary, menulis SOAP, menulis resep kue dan menulis resep obat memang sama-sama menulis. Tapi tidak bisa menjadikannya penulis. –sekali lagi ini menurutku-
            Beberapa minggu lalu, aku masih berpikir kalau aku bukanlah penulis. Hingga seorang teman tiba-tiba memberitahuku kalau dia membaca cerpenku di sebuah tabloid. Emmmh...responku cuma ketawa. Temanku itu memang sejak SMA doyan becanda. Tapi selanjutnya aku benar-benar penasaran ketika dia bersumpah kalau melihat namaku sebagai penulis cerpen yang dia baca. Kayaknya dia memang nggak becanda. Tapi, masa aku sendiri sampai nggak tahu cerpen sendiri dimuat di tabloid. Jadinya antara percaya dan nggak percaya waktu itu.
            Jadi, duluuuuuuu sekali. Aku memang sempat mengirim cerpen ke tabloid ‘G’tapi tidak pernah ada respon apapun saat itu. Jadi kuputuskan sendiri bahwa cerpenku ditolak. Dan karena malas serta berbagai macam hal lainnya, aku tidak pernah mengirim tulisan apapun lagi ke tabloid itu. Jika diingat-ingat, terakhir kali mengirim tulisan ke sana sekitar tahun 2011. Jadi rasanya aneh  tiba-tiba temanku bilang kalau dia baca tulisanku di tabloid itu.
            Sampai akhirnya, karena terus aku teror, temanku mengirim screencap dari tabloid yang memuat cerpenku. Katanya dia menemukan cerpen buatanku di tabloid ‘G’ edisi bulan Maret minggu ketiga tahun 2011. Jadi itu benar-benar cerpen yang kukirim tahun 2011!!! Waaaaaaaaaaaa, masih belum percaya. Kok bisa? Kok bisa? Kok bisa? Kok bisa nggak ada pemberitahuan dari redaksinya? Kok bisa? Dimuat tahun 2011 dan aku baru tahu bulan ini??? Seandainya...tahu hal ini sejak dulu...ahhhhh, ya sudahlah. Dengan begini jadi terasa lebih dramatik.

Ini penampakannya...
            Setelah itu aku langsung tanya ini itu ke kantor redaksinya, tapi karena sudah lama jadi agak susah. Sampai saat ini belum ada jawaban apapun. Rasanya frustasi, kesal, tapi juga senang...
           
             
 nb: Tengkyu Igus... ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar