Rabu, 23 April 2014

Pasien Hari Ini



Mengapa orang membuat keinginan kepada bintang jatuh? Apakah akan menjadi kenyataan jika mereka melakukannya? Dulu, aku selalu bertanya-tanya tentang hal itu.
Namun sekarang aku berpikir, ah, pasti mereka sangat putus asa.
Meskipun terus memiliki waktu yang sulit, aku berharap semua orang bisa bahagia.
---
Setiap kali melihat makhluk sepertimu, aku tidak berdaya. Menangis bukanlah kepribadianku dan itu hanya membuang-buang waktu. Jika bisa, aku ingin sekali marah. Tapi itu juga bukan hak maupun kewajibanku. Aku tidak suka terlibat dengan perasaan seperti ini. Terlalu rumit.
            “Bernapaslah…”
            Mengalirkan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru kecilmu adalah satu-satunya usaha yang bisa aku lakukan saat ini. Setelah itu terserah kamu mau melakukan apa saja. Membunuh ayah dan ibumu. Menyeret mereka ke penjara. Atau melupakan mereka selamanya. Semuanya ada di tanganmu.
            “Bernapaslah, aku mohon…”
            “Sudah, hentikan!” akhirnya bu Nurul merampas ambubag dari tanganku. Lima menit yang lalu dia sudah menyuruhku untuk berhenti tapi tak kupedulikan.
            Kusentuh kaki kecilmu yang bahkan lebih kecil dari jempol kakiku. Dua jam yang lalu di sini masih terasa hangat. Sekarang aku tak merasakan apapun.
            “Lakukan perawatan jenazah yang benar. Ibu anggap ini ujian!”
            Bu Nurul keluar dari ruang tindakan. Kulihat dia berbicara dengan dua orang polisi dan seorang wanita tua yang membawamu ke sini. Tidak jelas apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkin selanjutnya akan dilakukan autopsi. Mungkin juga mereka sedang berunding di mana akan menguburkanmu. Atau…mungkinkah polisi sudah menemukan ibu yang membuangmu?
            Alih-alih membantumu untuk bisa hidup lebih lama, justru akulah yang mendapat bantuan darimu. Setelah dua bulan praktik di rumah sakit, akhirnya aku bisa melakukan perawatan jenazah. Nilai praktik klinik kebidananku bertambah karenamu. Aku merasa lega, tapi tidak bahagia sama sekali.
***
            “Hei, Canis!”
            Aku melambatkan langkah lantas menoleh ke belakang. Ayu berjalan keluar dari ruang obgyn sambil tersenyum lebar.
            “Mau makan siang?” tanyanya seraya berjalan ke arahku.
            Aku menggangguk sambil balas tersenyum.
            “Jaga di mana hari ini?” Ayu menggandeng lenganku.
            “Perinatologi…” pandanganku teralihkan oleh sekumpulan orang yang berjalan dengan cepat menuju ruang obgyn. Aneh, karena jam besuk baru saja berakhir.
            “Kenapa banyak orang di sana? Ada yang meninggal?” selidikku yang langsung membuat Ayu tertawa.
            “Bukan. Ada pasien yang mau nikah!”
            Aku mengernyitkan dahi. Kaget sekaligus tidak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Ayu.
            “Kenapa menikah di sini?”
            “Anak SMA jaman sekarang memang gila. Teman-temannya lagi sibuk UN, dia malah lahiran!” tukas Ayu geram. Ia melipat kedua tangannya di dada. “Cowok yang menghamilinya kabur, baru ketemu tadi pagi. Makanya langsung dinikahin di sini.”
Selama di rumah sakit, aku sering mendengar kasus anak SMP yang diperkosa, anak SMA yang melahirkan di toilet sekolah, juga beberapa remaja meninggal karena aborsi. Tapi…menikah di rumah sakit?
            “Katanya ada yang nemu bayi di tong sampah ya?” Ayu segera menyeretku menjauh dari ruang obgyn.
            “Meninggal.” jawabku singkat.
            Ayu mendengus sebal. “Asfiksi?”
            “Iya. Ditambah perdarahan tali pusat.”
            “Kasihan…”
            Kami berdua sampai di depan pintu lift. Beberapa orang perawat juga terlihat di sana, menunggu giliran untuk menggunakan lift.
            “Capek…” keluh Ayu tidak bersemangat. “Aku ingin cepat-cepat minggu depan.” ucapnya pelan.
Benar juga. Tinggal satu minggu lagi, setelah itu praktik klinik kebidanan ini benar-benar akan berakhir. Meninggalkan rumah sakit, kembali ke kampus, ujian, menyusun tugas akhir, melakukan penelitian, lalu…wisuda.
            Pintu lift terbuka. Kulihat Nina keluar bersama seorang wanita hamil yang duduk di kursi roda. Setahuku hari ini dia jaga pagi di IGD. Pasti mau mengantar pasien ke ruang obgyn. Tapi…wanita hamil ini aneh.
            “Bu guru…” dia melambaikan tangannya pada orang-orang lalu tertawa keras sekali. “Bu guru…dadah…”
            Nina memberikan isyarat dengan matanya, menyuruhku dan Ayu untuk cepat mengikutinya. Ayu terlihat antusias, berbeda sekali raut wajahnya dengan beberapa menit lalu.
            “Bu guru…balonnya mana?” wanita hamil itu mendongak menatap Nina manja.
            “Nanti ya…” jawab Nina sekenanya.
            Ayu menyenggol lengan Nina. “Pasien ini kenapa?” bisiknya.
             “Plasenta previa.”
            Ayu tidak puas, dia mencubit lengan Nina. “Pasien ini kenapa? Stres?”
            Kami sampai di ruang Obgyn. Dengan sigap, Ayu yang memang bertugas di ruang obgyn langsung mengambil alih kasus wanita hamil tersebut. Wajahnya benar-benar gembira dan bersemangat.
            “Ini kasus yang langka! Akhirnya aku bisa melakukan asuhan pada ibu hamil dengan gangguan mental…” celotehnya padaku dan Nina.
            Nina membuang muka. Dia langsung mengajakku keluar dari ruang obgyn setelah menyerahkan pasien dan laporan rekam medik.
            “Kasihan pasien itu,” ucap Nina lirih.
            “Keluarganya di mana? Aku juga tidak melihat suaminya.”
            “Keluarganya masih mengurus administrasi. Kabarnya dia hamil setelah diperkosa oleh beberapa pemuda di kampungnya.”
            “Astagfirullah…pantas saja dia jadi seperti itu,” seruku nyaris tidak percaya.
            “Tidak. Dia idiot sejak kecil.”
***

Keterangan:
- Ambubag: Alat bantu pernapasan untuk memompa oksigen udara bebas.
- Ruang Obgyn: Fasilitas rawat inap khusus pasien-pasien dengan kasus kebidanan dan kandungan.
- Ruang Perinatologi: Fasilitas rawat inap yang disediakan khusus untuk pasien bayi baru lahir sampai usia 12 bulan.
- Asfiksi:Gangguan dalam pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh/ bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur.
- Plasenta Previa: Kondisi plasenta menempel di bagian bawah rahim/ bukan berada dalam posisi normal.

1 komentar: