Selasa, 08 Desember 2015

Kacamata



Tempo hari, dosen saya curhat bagaimana merepotkannya selama satu tahun terakhir ini beliau harus menggunakan kacamata. Tidak bisa nonton televisi dengan nyaman, mau makan bakso juga ribet banget, belum lagi kalau lagi bawa motor terus hujan gede.

Betul banget, Bu…
Ikut terharu sambil membayangkan beragam jenis duka selama 10 tahun lebih memakai kacamata.

Jika masih ada yang beranggapan kalau pakai kacamata itu jadi terkesan cool, keren, cakep dan pinter, buang jauh-jauh deh pikiran kayak gitu. Karena seperti kata dosen saya, pakai kacamata itu benar-benar merepotkan. Banyak banget penderitaan yang harus dialami. Nggak ada kerennya sama sekali.

Contohnya:

1. Nonton televisi
Nonton televisi itu enaknya sambil tiduran di sofa atau karpet, tapi bagi orang berkacamata hal sederhana itu pun sulit dilakukan. Salah posisi dikit, frame bisa patah.

2. Nonton Film 3D
“Apa yang harus aku lakukan?!!!” *nangis bareng Daehan  *ganti nonton pororo

3. Makan bakso dan makanan panas lainnya.
Tiap mau nyuap, baksonya nggak pernah kelihatan. Ketutupan uap dari kuah.

4. Snorkeling
Niatnya kan mau lihat keindahan terumbu karang sama ikan yang lucu-lucu gitu, apa daya yang terlihat hanya bayang-bayangnya saja.

5.  Pakai masker
Tapi bukan masker bengkuang atau putih telur yaaaa.
Bayangin, kondisinya saya pakai kacamata dan masker, terus lagi jahit luka pasien. Kacamata dibuka, nggak kelihatan. Kacamata dipasang, berembun dan tetap nggak jelas. Ini tuh derita bangeeeeet TT_TT
Kalau nggak percaya, cobain deh.

6. Bawa motor ditambah hujan gede
Keadannya sama kayak lagi pakai masker. Kacamata dilepas, jalan nggak kelihatan. Kacamata dipakai, kecipratan air hujan. TT_TT

7. Lupa
Pernah suatu hari, saya buru-buru ke kampus karena kuliah jam pertama itu dosennya nyeremin banget. Dan kacamata ketinggalan. Udah aja, seharian itu lemes kayak lagi diet. Duduk di barisan paling depan pun tetap nggak kelihatan. Cuma bisa pasang tampang sok ngerti dan sok bisa lihat tulisan di layar.

8. Sombong
Banyak banget yang bilang saya sombong. Katanya nggak pernah balik nyapa, nggak pernah balik senyum, nggak pernah balik melambaikan tangan, dll.
Bisa dipastikan kalau kejadian itu ketika saya lagi nggak pakai kacamata dan orang itu berada dalam jarak lebih dari 50 cm.
Jadi bukannya sombong, hanya saja saya tidak bisa melihat mereka dengan jelas.

9. Pusing, pegal, kulit belang
Gejala yang muncul setelah berjam jam memakai kacamata di bawah matahari yang terik. Itu saja.

10. Softlens dan operasi lasik
Kira-kira tiga tahun lalu pernah selingkuh dengan softlens. Tapi nggak lama karena kurang nyaman, sering kebawa tidur dan timbul iritasi. Balik lagi deh sama kacamata.
Eh, beberapa bulan lalu sempat kecantol juga dengan operasi lasik gara-gara adiknya teman yang bisa pisah dari kacamata setelah dioperasi. Tapi langsung ciut begitu tahu besaran biaya yang harus dikeluarkan. Mending uangnya buat jajan gamis. :))

Memiliki mata minus memang nggak nyaman. Tapi, masih ada sisi positifnya kok…(menurut saya ini mah :))
Contohnya tiap kali mau presentasi atau berbicara di depan banyak orang, saya suka sengaja nggak pakai kacamata. Kalau udah berdiri di depan, wajah orang yang banyak dan tertuju sama saya kan jadi nggak jelas terlihat, apalagi barisan paling belakang. Hal itu kadang bisa bikin saya jauh lebih tenang. Gugup hilang, presentasi lancar. :D


Kamis, 11 Juni 2015

[Latepost] JALAN-JALAN KE KULON PROGO

Apabila dalam pengembaraan kau tidak dapat menemukan seorang sahabat yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana, maka sebaiknya kau berjalan seorang diri seperti raja yang meninggalkan negara yang telah dikalahkannya atau seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di tengah hutan. (Siddhartha Gautama)


I know, I'll never walk alone


Perlakukan temanmu seperti kau memperlakukan foto-fotomu. Tempatkan mereka di bawah sinar yang paling indah. (Junnie Churchill)

Gagal foto di pohon gara-gara antriannya udah ditutup. 
Padahal kita datangnya pagi-pagi banget loh....
Belum jodoh TT_TT

Rapopo....
Yang penting udah nyampe Kalibiru :))

Kalau nggak salah, waktu itu kita lagi ngobrolin tentang Kulon Progo yang endemi malaria kan ya? :D *mohon abaikan


Smile :)


   Semoga lain hari kita berjodoh ya....

Dalam pesona persahabatan, seseorang yang biasanya tidak menonjolkan diri bisa menjadi berani, yang pemalu menjadi percaya diri, yang pemalas menjadi giat, dan yang tidak sabar atau banyak gerak menjadi hati-hati serta tenang. 
(William M, Thackeray)


Kita terlalu percaya diri bisa nyebur di air terjun sampai bawa baju ganti segala. 
Ternyata aliran airnya deras banget. :(
Lagi-lagi kita cuma bisa foto. 


Ah, iya, kalau mau ke sini lebih baik bawa bekal (terlebih jika gampang lapar kayak saya), karena di sekitar air terjun tidak ada warung apalagi rumah makan.


Persis seperti gelombang yang tidak bisa berdiri sendiri dan harus selalu ikut dalam riak samudera, begitu juga kita yang tidak pernah bisa menjalani hidup sendiri, sehingga harus selalu berbagi pengalaman hidup dengan orang-orang di sekeliling kita.
(Albert Schweitzer)



Setelah gagal naik pohon di Kalibiru, gagal nyebur di Grojogan Watujonggol, rupanya kita gagal pula melihat matahari terbenam di Pantai Glagah karena cuaca yang mendung. 
But, it's okay...haha
Soalnya ombak di sini keren banget. 
Baru di Pantai Glagah deh nungguin ombak deg-degannya sama kayak lagi nunggu jodoh. :D

Live-Laugh-Love




Bagi wanita, persahabatan melintasi batas cinta.
(Thomas Moore)

1...2...3...klik!


Persahabatan adalah bayang-bayang senja. 
Ia terus merayap hingga matahari kehidupan terbenam.
(La Fontaine)


I love youuuuuuu. ^_^



Selasa, 28 April 2015

Misteri di balik jari kelingking yang hilang


Judul          : Konstantinopel
Penulis       : Sugha
Penerbit     : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan     : Pertama, April 2015
Tebal         : 272 Halaman
ISBN         : 978-602-296-088-1
           
Putra Bimasakti, lulusan terbaik Sekolah Tinggi Sandi Negara datang terlambat di hari pertama dia bekerja sebagai Staf Ahli Bidang Politik sekaligus asisten Wakil Kepala BIN. Awal yang buruk langsung mengantarkan Bima pada sebuah kasus rumit. Bersama atasannya, Catur Turangga, Bima ikut menyelidiki penyebab tewasnya seorang caleg DPR terpilih bernama Ine Wijaya. Saat itu, diduga ada sabotase politik yang melatarbelakangi kematiannya. Hingga beberapa hari kemudian muncul kebakaran besar yang menewaskan Sandra Sienna Dewi, seorang staf administrasi gedung DPR. Dua kasus yang awalnya hanya disimpulkan sebagai kecelakaan biasa, berubah menjadi kasus pembunuhan berantai setelah ditemukan beberapa kesamaan yang mencolok. Pertama, kedua korban kehilangan jari kelingking tangan kiri. Kedua, ternyata mereka teman dekat dari Cinta Clarissa, putri angkat Presiden.

Jika ternyata kasus yang sedang ditangani Bima benar-benar kasus pembunuhan berantai, lantas apa yang melatarbelakanginya? Benarkah sabotase politik? Siapa dalangnya? Lalu, siapa berikutnya?

Perkenalan Bima dengan wartawan Channel-9 bernama Roman Abdurrahman memunculkan satu titik terang. Terungkap bahwa Roman, Ine Wijaya dan Sandra Sienna Dewi ternyata tergabung dalam Konstantinopel bersama Cinta Clarissa.  Tidak hanya mereka berempat, masih ada Januar Tan, Juan Sandjaya dan Felix Marpalele. Tujuh orang anggota Konstantinopel tersebut rupanya pernah sama-sama kuliah di Universitas Instanbul, Turki.

BIN semakin kewalahan dengan misteri pembunuhan berantai yang belum juga terkuak setelah Roman akhirnya tewas tertembak. Seperti dua korban sebelumnya, jari kelingking tangan kiri Roman pun hilang. Opini publik menggiring Cinta Clarissa sebagai tersangka utama ketika ditemukan pesan berbahasa Turki pada dinding kamar mayat. Setelah berhasil memecahkan pola pembunuhan yang digunakan pelaku, Bima justru sangat yakin kalau Cinta adalah target berikutnya. Namun, sulit bagi Bima untuk terus menyelidiki misteri pembunuhan anggota Konstantinopel karena tak lama setelah pembunuhan ketiga, dia malah dipecat oleh atasannya.

Ada beberapa hal ganjil yang tidak terjawab dari novel ini seperti alasan pembunuh mengambil jari kelingking tangan kiri. Kenapa harus kelingking tangan kiri? Selain itu, ketika Bima menyadari kalau tidak ada bekas noda darah pada mobil Ine Wijaya setalah tertabrak kereta api. Padahal sebelum diselidiki Bima, polisi sudah lebih dulu memeriksanya. Apa mungkin polisi melewatkan hal sepenting itu? Nomor kamar apartemen Cinta Clarissa pun tidak jelas. Di awal dituliskan 1708 tapi di halaman berikutnya menjadi 1709. Adegan ketika Bima nekat meloncat dari lantai enam dan membuat keributan di Mabes juga saya rasa tidak masuk akal.

Jangan menilai buku dari sampulnya, jangan pula menilai buku dari judulnya. Kalimat tersebut bisa disematkan pada novel pertama karya Sugha ini. Meski terdapat kekurangan, membaca Konstantinopel membuat saya terus penasaran sejak halaman pertama hingga akhir bahkan menamatkannya dalam sekali baca karena disuguhkan dengan alur cepat dan adegan-adegan yang menegangkan. Teka-teki rumit pada setiap bab juga membuat saya ikutan kesal karena hingga bab terakhir masih kesulitan menebak siapa pelaku pembunuhan sebenarnya. Konstantinopel mungkin tidak sempurna tapi kehadirannya bisa menjadi oase bagi para penikmat novel thriller.