Judul : Konstantinopel
Penulis : Sugha
Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2015
Tebal : 272 Halaman
ISBN : 978-602-296-088-1
Putra Bimasakti, lulusan terbaik
Sekolah Tinggi Sandi Negara datang terlambat di hari pertama dia bekerja
sebagai Staf Ahli Bidang Politik sekaligus asisten Wakil Kepala BIN. Awal yang
buruk langsung mengantarkan Bima pada sebuah kasus rumit. Bersama atasannya,
Catur Turangga, Bima ikut menyelidiki penyebab tewasnya seorang caleg DPR terpilih
bernama Ine Wijaya. Saat itu, diduga ada sabotase politik yang melatarbelakangi
kematiannya. Hingga beberapa hari kemudian muncul kebakaran besar yang
menewaskan Sandra Sienna Dewi, seorang staf administrasi gedung DPR. Dua kasus
yang awalnya hanya disimpulkan sebagai kecelakaan biasa, berubah menjadi kasus
pembunuhan berantai setelah ditemukan beberapa kesamaan yang mencolok. Pertama,
kedua korban kehilangan jari kelingking tangan kiri. Kedua, ternyata mereka
teman dekat dari Cinta Clarissa, putri angkat Presiden.
Jika ternyata kasus yang sedang
ditangani Bima benar-benar kasus pembunuhan berantai, lantas apa yang
melatarbelakanginya? Benarkah sabotase politik? Siapa dalangnya? Lalu, siapa
berikutnya?
Perkenalan Bima dengan wartawan
Channel-9 bernama Roman Abdurrahman memunculkan satu titik terang. Terungkap
bahwa Roman, Ine Wijaya dan Sandra Sienna Dewi ternyata tergabung dalam
Konstantinopel bersama Cinta Clarissa. Tidak
hanya mereka berempat, masih ada Januar Tan, Juan Sandjaya dan Felix Marpalele.
Tujuh orang anggota Konstantinopel tersebut rupanya pernah sama-sama kuliah di
Universitas Instanbul, Turki.
BIN semakin kewalahan dengan misteri
pembunuhan berantai yang belum juga terkuak setelah Roman akhirnya tewas
tertembak. Seperti dua korban sebelumnya, jari kelingking tangan kiri Roman pun
hilang. Opini publik menggiring Cinta Clarissa sebagai tersangka utama ketika
ditemukan pesan berbahasa Turki pada dinding kamar mayat. Setelah berhasil
memecahkan pola pembunuhan yang digunakan pelaku, Bima justru sangat yakin
kalau Cinta adalah target berikutnya. Namun, sulit bagi Bima untuk terus
menyelidiki misteri pembunuhan anggota Konstantinopel karena tak lama setelah
pembunuhan ketiga, dia malah dipecat oleh atasannya.
Ada beberapa hal ganjil yang tidak
terjawab dari novel ini seperti alasan pembunuh mengambil jari kelingking
tangan kiri. Kenapa harus kelingking tangan kiri? Selain itu, ketika Bima
menyadari kalau tidak ada bekas noda darah pada mobil Ine Wijaya setalah
tertabrak kereta api. Padahal sebelum diselidiki Bima, polisi sudah lebih dulu
memeriksanya. Apa mungkin polisi melewatkan hal sepenting itu? Nomor kamar
apartemen Cinta Clarissa pun tidak jelas. Di awal dituliskan 1708 tapi di
halaman berikutnya menjadi 1709. Adegan ketika Bima nekat meloncat dari lantai
enam dan membuat keributan di Mabes juga saya rasa tidak masuk akal.
Jangan menilai buku dari sampulnya,
jangan pula menilai buku dari judulnya. Kalimat tersebut bisa disematkan pada
novel pertama karya Sugha ini. Meski terdapat kekurangan, membaca
Konstantinopel membuat saya terus penasaran sejak halaman pertama hingga akhir
bahkan menamatkannya dalam sekali baca karena disuguhkan dengan alur cepat dan
adegan-adegan yang menegangkan. Teka-teki rumit pada setiap bab juga membuat
saya ikutan kesal karena hingga bab terakhir masih kesulitan menebak siapa
pelaku pembunuhan sebenarnya. Konstantinopel mungkin tidak sempurna tapi
kehadirannya bisa menjadi oase bagi para penikmat novel thriller.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar