Selasa, 28 April 2015

Misteri di balik jari kelingking yang hilang


Judul          : Konstantinopel
Penulis       : Sugha
Penerbit     : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan     : Pertama, April 2015
Tebal         : 272 Halaman
ISBN         : 978-602-296-088-1
           
Putra Bimasakti, lulusan terbaik Sekolah Tinggi Sandi Negara datang terlambat di hari pertama dia bekerja sebagai Staf Ahli Bidang Politik sekaligus asisten Wakil Kepala BIN. Awal yang buruk langsung mengantarkan Bima pada sebuah kasus rumit. Bersama atasannya, Catur Turangga, Bima ikut menyelidiki penyebab tewasnya seorang caleg DPR terpilih bernama Ine Wijaya. Saat itu, diduga ada sabotase politik yang melatarbelakangi kematiannya. Hingga beberapa hari kemudian muncul kebakaran besar yang menewaskan Sandra Sienna Dewi, seorang staf administrasi gedung DPR. Dua kasus yang awalnya hanya disimpulkan sebagai kecelakaan biasa, berubah menjadi kasus pembunuhan berantai setelah ditemukan beberapa kesamaan yang mencolok. Pertama, kedua korban kehilangan jari kelingking tangan kiri. Kedua, ternyata mereka teman dekat dari Cinta Clarissa, putri angkat Presiden.

Jika ternyata kasus yang sedang ditangani Bima benar-benar kasus pembunuhan berantai, lantas apa yang melatarbelakanginya? Benarkah sabotase politik? Siapa dalangnya? Lalu, siapa berikutnya?

Perkenalan Bima dengan wartawan Channel-9 bernama Roman Abdurrahman memunculkan satu titik terang. Terungkap bahwa Roman, Ine Wijaya dan Sandra Sienna Dewi ternyata tergabung dalam Konstantinopel bersama Cinta Clarissa.  Tidak hanya mereka berempat, masih ada Januar Tan, Juan Sandjaya dan Felix Marpalele. Tujuh orang anggota Konstantinopel tersebut rupanya pernah sama-sama kuliah di Universitas Instanbul, Turki.

BIN semakin kewalahan dengan misteri pembunuhan berantai yang belum juga terkuak setelah Roman akhirnya tewas tertembak. Seperti dua korban sebelumnya, jari kelingking tangan kiri Roman pun hilang. Opini publik menggiring Cinta Clarissa sebagai tersangka utama ketika ditemukan pesan berbahasa Turki pada dinding kamar mayat. Setelah berhasil memecahkan pola pembunuhan yang digunakan pelaku, Bima justru sangat yakin kalau Cinta adalah target berikutnya. Namun, sulit bagi Bima untuk terus menyelidiki misteri pembunuhan anggota Konstantinopel karena tak lama setelah pembunuhan ketiga, dia malah dipecat oleh atasannya.

Ada beberapa hal ganjil yang tidak terjawab dari novel ini seperti alasan pembunuh mengambil jari kelingking tangan kiri. Kenapa harus kelingking tangan kiri? Selain itu, ketika Bima menyadari kalau tidak ada bekas noda darah pada mobil Ine Wijaya setalah tertabrak kereta api. Padahal sebelum diselidiki Bima, polisi sudah lebih dulu memeriksanya. Apa mungkin polisi melewatkan hal sepenting itu? Nomor kamar apartemen Cinta Clarissa pun tidak jelas. Di awal dituliskan 1708 tapi di halaman berikutnya menjadi 1709. Adegan ketika Bima nekat meloncat dari lantai enam dan membuat keributan di Mabes juga saya rasa tidak masuk akal.

Jangan menilai buku dari sampulnya, jangan pula menilai buku dari judulnya. Kalimat tersebut bisa disematkan pada novel pertama karya Sugha ini. Meski terdapat kekurangan, membaca Konstantinopel membuat saya terus penasaran sejak halaman pertama hingga akhir bahkan menamatkannya dalam sekali baca karena disuguhkan dengan alur cepat dan adegan-adegan yang menegangkan. Teka-teki rumit pada setiap bab juga membuat saya ikutan kesal karena hingga bab terakhir masih kesulitan menebak siapa pelaku pembunuhan sebenarnya. Konstantinopel mungkin tidak sempurna tapi kehadirannya bisa menjadi oase bagi para penikmat novel thriller.